ARN24.NEWS – PT Bcrobes Medical Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang solusi kesehatan berbasis sains mikroba dan bioteknologi, memperkenalkan hasil penelitian terbaru
mengenai potensi probiotik sebagai terapi pendamping (adjuvant therapy) dalam penanganan jerawat ringan hingga sedang.
Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam rangkaian Pekan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia (PIT IAI) 2026 yang berlangsung pada 6–8 Agustus 2026 di Medan.
Pada kesempatan yang sama, Bcrobes juga meluncurkan buku ‘Transformasi Paradigma Probiotik: Generasi Baru Kesehatan Berbasis Mikrobioma’ sebagai bagian dari komitmennya memperluas edukasi kesehatan berbasis bukti ilmiah.
Penelitian ini mengeksplorasi pendekatan berbasis mikrobioma melalui pemanfaatan probiotik dan secretome sebagai terapi pendamping dalam penanganan jerawat. Pendekatan ini sejalan dengan
berkembangnya penelitian yang melihat kesehatan kulit secara lebih menyeluruh dan membuka peluang bagi eksplorasi pendekatan baru untuk melengkapi terapi yang telah tersedia.
Prof Dr apt Keri Lestari MSi, Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran sekaligus Supervisor Research mengatakan, penelitian ini berangkat dari perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin menunjukkan adanya hubungan antara kesehatan usus dan kesehatan kulit melalui gut–skin axis.
“Kami ingin mengeksplorasi lebih jauh
bagaimana pendekatan berbasis mikrobioma, termasuk penggunaan probiotik, berpotensi
mendukung terapi jerawat yang telah ada,” kata Prof Keri Lestari, Kamis (6/8/2026).
Mendorong inovasi kesehatan yang berangkat dari bukti ilmiah bagi Bcrobes, riset menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengembangkan solusi kesehatan sekaligus membangun kolaborasi dengan akademisi dan tenaga kesehatan.
Prof Dean Lee Heng Yee, Director of Bcrobes Group, mengatakan bahwa perkembangan ilmu mikrobioma membuka peluang yang semakin luas untuk memahami kesehatan manusia secara lebih komprehensif.
“Bcrobes percaya bahwa inovasi kesehatan harus berjalan bersama dengan penelitian dan bukti ilmiah. Karena itu, komitmen kami tidak berhenti pada pengembangan produk, tetapi juga mencakup dukungan terhadap penelitian, publikasi ilmiah, serta edukasi yang dapat membantu tenaga kesehatan dan masyarakat memperoleh informasi yang kredibel,” ujar Prof Dean Lee Heng Yee.
Sementara itu, Dr Kaley Oon Seok Fang, Medical Affairs Director Bcrobes, melihat temuan tersebut sebagai langkah awal untuk mengeksplorasi lebih jauh potensi probiotik dalam mendukung terapi jerawat. (sh)









