×

Iklan

Di Tengah Gempuran Becak Motor, Tiga Abang Becak Dayung di Tanjung Beringin Tetap Bertahan

Kamis, 24 September 2026 | 14:19 WIB Last Updated 2026-09-24T07:19:49Z


ARN24.NEWS
- Di tengah perkembangan zaman dan semakin maraknya penggunaan kendaraan bermotor, tiga penarik becak dayung masih setia mengayuh pedal demi mencari nafkah di Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.


Ketiganya biasa mangkal di kawasan pajak tradisional Desa Pekan Tanjung Beringin. Dengan becak sederhana, mereka mengantarkan penumpang maupun membawa barang dagangan sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


Ketiga penarik becak dayung tersebut yakni Saiful Makruf (67), warga Kapten Wanrahmad Dusun VII; Muhammad Yusuf (53), warga Dusun XIV Ujung Pasar; dan Amin alias Ngantuk (55), warga Gang Damai. Ketiganya merupakan warga Desa Pekan Tanjung Beringin.


Meski usia tidak lagi muda dan harus bersaing dengan becak bermotor, mereka tetap menjalani pekerjaan tersebut. Bagi mereka, mengayuh becak bukan sekadar pekerjaan, tetapi menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


Saiful Makruf mengatakan dirinya telah menjadi penarik becak dayung sejak 1995. Selama lebih dari tiga dekade, ia mengandalkan tenaga untuk mengayuh becak demi mendapatkan penghasilan.


"Sejak tahun 1995 saya bekerja sebagai penarik becak dayung. Sampai sekarang masih inilah pekerjaan saya," ujar Saiful kepada wartawan, Rabu (24/9).


Ia mengakui keberadaan becak bermotor membuat pendapatan penarik becak dayung semakin berkurang. Jumlah penumpang yang menggunakan jasa becak dayung, menurut dia, tidak lagi sebanyak dahulu.


"Kalau soal saingan dengan becak bermotor, bagaimana lagi. Terpuruklah, parah. Pendapatan sehari paling sekadar cukup untuk makan," katanya.


Saiful mengaku sebenarnya memiliki keinginan untuk beralih menggunakan becak bermotor. Namun, keinginan tersebut belum dapat diwujudkan karena keterbatasan modal.


"Ya, mau bagaimana lagi. Tidak ada modal untuk membeli becak bermotor," ujarnya.


Kondisi serupa juga dialami Muhammad Yusuf dan Amin alias Ngantuk. Keduanya masih mengayuh becak dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendapatkan penghasilan, meski hasil yang diperoleh tidak seberapa.


Di tengah kondisi tersebut, masih terdapat masyarakat yang memilih menggunakan jasa becak dayung. Salah satunya Suaibattul (61), warga Jalan Merdeka, yang mengaku telah menjadi pelanggan tetap.


Perempuan yang akrab disapa Habibah itu mengatakan memilih becak dayung karena merasa lebih nyaman dan santai selama perjalanan.


"Saya memilih naik becak dayung karena enak dan santai. Lagipula sudah menjadi langganan," kata Habibah.


Keberadaan tiga penarik becak dayung tersebut menjadi gambaran kehidupan pekerja tradisional yang masih bertahan di tengah perubahan zaman.


Ketika kendaraan bermotor semakin mendominasi jalanan, Saiful, Yusuf, dan Amin tetap mengandalkan tenaga serta pedal becak untuk menyambung hidup.


Selama masih ada penumpang yang membutuhkan jasa mereka, selama itu pula pedal becak akan terus dikayuh demi memenuhi kebutuhan keluarga di rumah. (Wadi)