Notification

×

Iklan

Iklan

MANTUL!!! Kopi Produk Pesantren di Sipirok Tapsel Ekspor Perdana ke Brunai Darussalam

Kamis, 04 Juli 2024 | 19:56 WIB Last Updated 2024-07-04T12:56:44Z

ARN24.NEWS --
Pondok Pesantren Darul Mursyid Sipirok di Kabupaten Tapanuli Selatan mengekspor kopi ke Brunei Darussalam. Ekspor perdana ini telah dilakukan dari Pelabuhan Sibolga pada pekan kemarin. 

Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Karantina Sumatera Utara satuan pelayanan (satpel) Sibolga menyatakan telah melayani pengajuan perdana ekspor Kopi Sipirok sebanyak 7 kilogram (kg).

Petugas Karantina Sibolga, Prawira yang menerima kunjungan dari eksportir menjelaskan terkait persyaratan ekspor kopi dan memperkenalkan aplikasi PPK Online agar lebih mudah dalam melapor ke Karantina.

"Kopi yang akan diekspor adalah kopi luwak yang berasal dari Pesantren Darul Mursyid Sipirok," ujar Prawira, Rabu (3/7/2024). 

Berdasarkan penjelasan eksportir Sucipto, kopi yang dihasilkan Pondok Darul Mursyid (PDM) merupakan hasil dari kebun dan diolah sendiri. Bahkan pemasarannya pun dilakukan sendiri ke berbagai kota.

"PDM Coffee melalui kebun kopinya ingin menyejahterakan para petani kopi lokal untuk mengedepankan kopi Indonesia, PDM tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sudah bertransformasi menjadi Lembaga Pemberdayaan Ekonomi masyarakat," kata Sucipto.

Dia mengungkapkan, kopi dari daerah Sipirok sudah terkenal rasa dan kekhasannya. PDM Coffee juga telah meraih prestasi yang cukup banyak, di antaranya juara I Green Bean Competition pada ajang Festival Kopi Sumut 2019 yang diselenggarakan Disperindag Sumut. 

Kemudian juara III Coffee Signature pada ajang Festival Kopi dan Pameran Kuliner Nusantara (Halal Food) 2019 yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Tebingtinggi.

Kepala Karantina Sumut N Prayatno Ginting menyampaikan, Koperasi PDM merupakan UMKM binaan klinik ekspor Karantina Satpel Sibolga. 

"7 kg kopi biji yang akan diekspor merupakan sampel ke negara tujuan. Semoga pengiriman ini sesuai dengan permintaan negara tujuan dan bisa berkelanjutan dan dengan volume yang lebih besar," pungkasnya. (ins/nt)