
Duka keluarga almarhum Reza Valentino Simamora kian bertambah setelah sejumlah barang milik anak mereka yang bekerja di Korea Selatan diduga hilang saat tiba di rumah duka. (Foto: Istimewa)
ARN24.NEWS – Duka keluarga almarhum Reza Valentino Simamora kian bertambah setelah sejumlah barang milik anak mereka yang bekerja di Korea Selatan melalui skema Government to Government (G to G) diduga hilang saat proses pemulangan ke Indonesia.
Barang-barang milik almarhum diketahui telah tiba di Indonesia melalui jalur pengiriman laut dan masuk melalui Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Selanjutnya, barang tersebut diserahkan kepada keluarga oleh Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Utara (BP3MI).
Namun saat dibuka, koper yang sedari awal lengkap dipaking sudah terbuka. Bahkan isi koper pun sudah berserakan.
“Saya tidak terima, ini dari Korea divideokan bagus pakingnya tidak terbuka seperti ini,” jerit ibu korban sambil meraung meratapi apa yang dilihatnya itu, Rabu (15/4/2026).
Sementara Perwakilan Tim Perlindungan BP3MI Sumut, Enceng Supiyanto, mengatakan pihaknya hanya bertugas mengantarkan barang yang telah diterima dari proses pengiriman internasional.
“Barang baru tiba dua hari lalu di kantor kami dalam bentuk boks. Hari ini kami serahkan langsung kepada keluarga sesuai arahan pimpinan,” ujar Enceng di kediaman orang tua almarhum.
Hal senada disampaikan staf penelaah BP3MI Sumut, Riansah Manalu. Ia menyebutkan barang dikirim dari Korea Selatan dan diterima dalam kondisi tertutup sebelum dibuka bersama keluarga.
“Kami menerima dalam kondisi boks tertutup, dan hari ini dibuka bersama keluarga. Jika ada kekurangan, akan kami telusuri ke pihak kargo maupun KBRI,” kata Riansah.
Namun, pihak keluarga menyampaikan kekecewaan. Mereka menduga terjadi pembongkaran sebelum barang sampai ke tangan mereka. Paspor serta dua unit telepon genggam milik almarhum dilaporkan tidak ditemukan di dalam koper.
“Paspor dan dua HP anak saya, Samsung dan Redmi, tidak ada. Padahal saat dikirim dari Korea masih lengkap. Ini sangat mengecewakan,” ujar ayah almarhum, S Simamora dengan nada emosional.
Keluarga juga menyoroti kondisi koper yang ditemukan dalam keadaan terbuka serta segel kemasan yang dinilai tidak lagi utuh seperti saat awal pengiriman.
Selain kehilangan barang, keluarga turut mengeluhkan proses pencairan asuransi yang dinilai lambat dan tidak transparan.
“Kalau BPJS di Indonesia bisa cepat, ini dari Korea bertele-tele. Kami menduga ada sesuatu yang tidak beres,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, BP3MI Sumut menyatakan akan menindaklanjuti laporan kehilangan dengan berkoordinasi bersama pihak kargo, KBRI, serta BP2MI pusat guna menelusuri kemungkinan hilangnya barang dalam proses pengiriman.
“Kami akan bantu telusuri sesuai permintaan keluarga,” ujar Riansah.
Kasus ini menambah sorotan terhadap perlindungan barang milik Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya dalam situasi duka, agar proses pemulangan dapat berlangsung transparan serta menghormati keluarga yang ditinggalkan. (sh)








