Notification

×

Iklan

Politikus Anti-Islam Bakar Alquran, Umat Muslim Murka, Swedia Diguncang Kerusuhan

Sabtu, 16 April 2022 | 17:02 WIB Last Updated 2022-04-16T10:02:41Z

Ilustrasi. Tindakan pembakaran Alquran oleh politikus anti-Islam Rasmus Paludan membuat umat islam di Kota Linkoping, Swedia marah dan berunjuk rasa hingga menyebabkan kerusuhan di negara tersebut. (Foto: INT)

ARN24.NEWS
-- Tindakan pembakaran Alquran oleh politikus anti-Islam Rasmus Paludan membuat umat muslim di Kota Linkoping, Swedia marah dan berunjuk rasa hingga menyebabkan kerusuhan di negara tersebut.


Bentrokan pecah antara umat Islam setempat dengan polisi yang memberikan izin untuk Paludan melakukan aksinya. Massa yang marah merusak dan membakar mobil-mobil polisi.


“Saya tidak melihat mobil polisi yang tidak rusak," kata seorang saksi mata, kepada surat kabar Aftonbladet, seperti dilaporkan kembali Sputnik, Jumat (15/4/2022).


Tiga polisi terluka dalam bentrokan tersebut, namun jumlah korban dari demonstran tak diketahui. Kerusuhan juga menyebar ke Kota Norrkoping melibatkan ratusan orang, membuat situasi mencekam.


Dalam bentrokan itu, polisi menangkap dua orang atas tuduhan melakukan perusakan dan kekerasan serta empat lainnya atas tuduhan berperilaku tidak tertib.


Atas kejadian itu, Menteri Kehakiman Swedia Morgan Johansson mengecam kerusuhan tersebut serta Paludan.


“Orang-orang di balik kerusuhan dan kekerasan tidak mewakili warga sekitar. Sebagian besar wilayah rentan hanya menginginkan kedamaian dan ketenangan dan bisa menjalani aktivitas mereka," kata Morgan dalam cuitannya dikutip dari iNews.id.


Menurutnya, adapun provokator ekstrimis sayap kanan, reaksi seperti inilah yang ingin dia lihat. Tujuannya untuk menghasut orang satu sama lain. 


"Saya mendesak semua kekuatan kebaikan untuk tetap tenang dan jangan terprovokasi. Pemerintah terus mengikuti perkembangan," ujarnya.


Paludan, politikus keturunan Denmark-Swedia, menjadi terkenal setelah melakukan demonstrasi anti-Islam termasuk membakar Alquran di Denmark. Acara serupa diadakan di Swedia, sering kali mengakibatkan kerusuhan yang disertai kekerasan. 


Demonstrasi Paludan dianggap provokatif karena sering menampilkan penodaan terhadap Alquran dan Islamic center dengan dalih kebebasan berbicara. Sejak itu dia berada dalam pengawalan ketat kepolisian karena kerap mendapat ancaman pembunuhan.


Data Pew Research tahun 2017 mengungkap, jumlah Muslim di Swedia 8,1 persen dari total penduduk negara itu yang berjumlah 10 juta orang. Pemeluk Islam di Swedia melonjak drastis dalam puluhan tahun terakhir, umumnya imigran.